Cairbos – Malam Pahit di Bernabeu: Mbappe Disambut Siulan, Madrid Menang Tanpa Kebanggaan

 

Cairbos – Kylian Mbappe kembali ke lapangan pada Kamis malam, 15 Mei 2026, bukan dengan sorak-sorai yang selama ini ia kenal, melainkan dengan cemoohan yang bergemuruh dari tribune Santiago Bernabeu. Real Madrid memang menang 2-0 atas Real Oviedo dalam laga La Liga yang sejatinya tak lebih dari sebuah formalitas akhir musim, namun yang tersisa dari malam itu jauh lebih kompleks dari sekadar tiga angka di papan klasemen. Di balik kemenangan yang hambar itu, tersimpan gambaran nyata betapa dalamnya krisis kepercayaan yang tengah melanda klub terbesar Spanyol.

Bintang asal Prancis itu baru saja pulih dari cedera paha yang memaksanya absen beberapa pekan, dan ia masuk sebagai pemain pengganti di paruh kedua pertandingan. Namun alih-alih disambut hangat sebagai pahlawan yang kembali, Mbappe justru disongsong dengan siulan keras dari sebagian besar penonton yang memenuhi — atau lebih tepatnya, tidak sepenuhnya memenuhi — tribun Bernabeu. Ribuan kursi tampak kosong malam itu, sebuah pemandangan yang sendirinya sudah cukup bicara soal suasana hati para pendukung Los Blancos menjelang tutup musim.

Sumber kemarahan suporter bukan semata-mata persoalan performa di lapangan. Kabar yang beredar luas menyebutkan bahwa selama masa pemulihan cedera pahanya, Mbappe terlihat berlibur di Sardinia. Keputusan itu memantik reaksi keras dari para pendukung yang menganggapnya sebagai bentuk kurangnya dedikasi terhadap tim, terlebih di saat Madrid tengah berjuang keras di penghujung musim yang sudah telanjur kacau. Sudut pandang itu kemudian menumpuk di atas berbagai kritik yang memang sudah berbulan-bulan menjadi gunjingan: bahwa Mbappe, dengan segala kemegahan namanya, belum sepenuhnya menyerahkan dirinya untuk Madrid.

Padahal, secara statistik, angka-angka Mbappe berbicara lain. Memasuki laga melawan Oviedo, striker berusia 27 tahun itu telah mengemas 41 gol dalam 41 penampilan di seluruh ajang kompetisi musim ini — produktivitas yang luar biasa dan hampir mustahil untuk dikritik secara murni dari kacamata teknis. Namun sepak bola, khususnya di sebuah klub bersejarah seperti Real Madrid, tidak pernah hanya soal angka. Ia juga soal persepsi, loyalitas, dan perasaan saling memiliki antara pemain dan pendukung — dan dalam hal-hal itulah Mbappe tampaknya masih belum menemukan tempatnya yang sesungguhnya di hati Madridista.

Malam itu ia berusaha tersenyum. Saat namanya dibacakan dan siulan mengalun dari tribune, Mbappe tampak mencoba menyikapi semuanya dengan tenang. Ia melepaskan beberapa tembakan — sebagian meleset, satu lagi diblok kiper — namun justru kontribusinya yang paling berarti datang lewat sebuah umpan kepada Jude Bellingham yang berbuah gol kedua Madrid. Gol yang menentukan hasil akhir pertandingan, meski tak mampu menentukan arah musim yang sudah terlanjur berjalan di luar kendali.

Jalannya pertandingan itu sendiri mencerminkan situasi Madrid secara keseluruhan: tidak buruk, namun jauh dari mengesankan. Pelatih sementara Alvaro Arbeloa — yang masa jabatannya di bangku cadangan Bernabeu tampaknya hampir habis, dengan nama Jose Mourinho kian santer dikaitkan sebagai calon penggantinya — menurunkan Mbappe dan Bellingham sebagai starter cadangan. Dari awal, Madrid memang tampil lebih dominan, namun tanpa kilau yang seharusnya menjadi ciri khas mereka.

Di babak pertama, Franco Mastantuono memaksa kiper Oviedo, Aaron Escandell, melakukan penyelamatan penting dari peluang terbaik tuan rumah. Vinicius Junior, yang pada malam itu juga tak luput dari kecaman suporter, melepaskan tembakan yang diblok, dan bola rebound-nya berakhir di sisi luar jaring. Oviedo sendiri sempat mengancam melalui Nacho Vidal, yang melepaskan tembakan melambung setelah pergerakan bagus tim tamu, meski tidak menghasilkan ancaman nyata.

Gol pertama baru datang sesaat sebelum turun minum. Brahim Diaz mengirimkan umpan terarah ke dalam kotak penalti, dan Gonzalo Garcia menyelesaikannya dengan apik tanpa ampun. Gol itu memberi Madrid keunggulan yang pantas, meski ritme permainan tetap tidak cukup untuk memuaskan ekspektasi suporter yang sudah lebih dulu kecewa dengan musim ini secara keseluruhan.

Babak kedua berjalan dengan nada serupa. Escandell kembali berperan sebagai tembok terakhir Oviedo — ia menepis tembakan Diaz, lalu menyelamatkan percobaan Alvaro Carreras dari jarak dekat di tiang pertama. Vidal kembali membuang peluang bagi tamunya, tembakannya meleset dari sasaran. Lalu masuk Mbappe, dan bersamanya, gelombang cemoohan. Meski demikian, sang striker tidak kehilangan naluri bermainnya. Umpannya kepada Bellingham berbuah ruang tembak yang sempurna, dan gelandang Inggris itu menyelesaikannya dengan tembakan keras dan rendah yang menerobos penjagaan Escandell dari dalam kotak penalti. Madrid menang 2-0. Pertandingan selesai. Namun masalah sesungguhnya tetap menggantung di udara.

Setelah peluit akhir, Mbappe berbicara jujur kepada wartawan. “Siulan itu… begitulah hidup, Anda tidak bisa mengubah opini orang-orang ketika mereka marah,” katanya dengan nada yang mencoba terdengar tenang namun menyimpan getir. “Inilah kehidupan seorang pemain Real Madrid dan pemain terkenal seperti saya. Pemain sepak bola tidak selalu harus mengerti, mereka harus menerima dan menatap ke depan serta mengubah situasi.” Kata-kata itu bukan defensif, tapi juga bukan kalimat seseorang yang benar-benar merasa damai dengan keadaannya.

Yang menarik, Mbappe bukan pemain pertama yang merasakan panasnya cemoohan di Bernabeu. Bahkan idolanya sendiri, Cristiano Ronaldo, pernah melewati pengalaman serupa di stadion yang sama selama bertahun-tahun. Bernabeu dikenal sebagai panggung yang tidak pernah benar-benar ramah, bahkan kepada para legenda yang sudah mengukir segalanya bagi klub. Bagi Mbappe yang baru menjalani musim kedua bersama Madrid, gesekan ini mungkin merupakan ujian kedewasaan yang sesungguhnya.

Konteks yang membingkai semua ini semakin berat ketika diingat bahwa Madrid akan mengakhiri musim kedua berturut-turut tanpa satu pun trofi utama. Pekan lalu, Barcelona resmi dinobatkan sebagai juara La Liga setelah mengandaskan Madrid di El Clasico di Camp Nou — laga yang dijalani Los Blancos justru tanpa Mbappe. Ironi itu tidak luput dari perhatian publik: ketika striker paling produktif mereka absen, Madrid kalah dalam laga paling krusial. Ketika ia kembali, suporter justru menyambutnya dengan cemoohan.

Situasi internal klub juga tidak lebih tenang. Presiden Florentino Perez memimpin pemilihan internal di tengah badai krisis ini, dan suasana di Bernabeu sendiri mencerminkan perpecahan di kalangan pendukung. Para petugas keamanan terpaksa menyingkirkan spanduk-spanduk berisi seruan “Florentino pergi sekarang” yang dibentangkan oleh sekelompok suporter yang tidak puas. Opini soal kepemimpinan Perez terpolarisasi tajam, dan kemenangan atas Oviedo yang terdegradasi itu tentu tidak cukup untuk meredam ketegangan yang sudah berbulan-bulan menumpuk.

Di luar Bernabeu, La Liga pada malam yang sama juga menorehkan sejumlah hasil yang tidak kalah dramatis. Girona bermain imbang 1-1 melawan Real Sociedad — hasil yang cukup untuk mendorong mereka naik ke peringkat 15, namun hanya selisih satu poin dari zona degradasi. Valencia dan Rayo Vallecano berbagi angka dalam laga yang juga berakhir 1-1, keduanya masih belum sepenuhnya aman dari ancaman turun kasta dan harus berjuang keras di sisa pertandingan yang tersisa.

Bagi Real Madrid, kemenangan atas Oviedo hanyalah penutup yang hambar dari musim yang jauh dari kata memadai. Gol memang tercipta, poin memang diraih, namun luka musim ini — kehilangan gelar liga, tumbang di El Clasico, krisis kepercayaan antara pemain dan suporter, perdebatan soal kepemimpinan Florentino — tidak akan sembuh hanya dengan satu kemenangan rutin di hadapan ribuan kursi kosong. Dan Mbappe, sang pencetak 41 gol yang disambut siulan, kini berdiri di persimpangan: ia harus membuktikan bukan hanya bahwa ia bisa mencetak gol, tetapi bahwa ia benar-benar milik Madrid, dan Madrid benar-benar miliknya.

Scroll to Top